Kamis, 11 Juni 2015

Ukti Manis (Cerpen Sobat KPM)



Ukhti Manis
Oleh: Lukman Hakim


 
Jika kau berkunjung ke sekolah kami, duduklah sejenak di teras asrama ikhwan. Dengan ditemani semilir angin pohon trembesi dan kicauan burung merpati, kau akan merasakan atmosphere yang berbeda saat kau kembali berdiri dari kursi panang yang kau tempati. Jika nasibmu mujur, mungkin kau akan melihat bidadari melintasi pekarangan asrama putri. Atau jika nasibu buruk, kau akan diceramahi sepanjang hari oleh ustadz karena kau telah berani memandang santri putri.
   Di asrama putri ada satu ciptakaan-Nya yang nyaris sempurna, menyejukan hati ketika di pandang namanya ukhti Mutiara atau yang biasa disapa ukhti manis. Gadis anggun berparas cantik nan manis ini memang telah menjadi idola seseantreo sekolah kami. Ditambah kerudung panjang biru bercorak ‘spirit flower’ yang selalu melekat di kepalanya menambah nilai plus baginya bak jelmaan bidadari yang diutus ke sekolah kami. Tapi dengan begitu dia menjadi lebih berwibawa dan membuat kami lebih segan. 
  Gadis cantik berprestatsi tinggi, baik akedemik maupun non akademik. Dia juga tak hanya energik tapi juga solehah. Konon, ketika ia duduk di kelas 2 SMA, ia telah hafal setengah alquran atau 15 juz. Pencapaian gemilang baginya yang baru 2 tahun menetap di pondok. Padahal, ketika ukhti manis menjabat sebagai osis ia terbilang cukup sibuk dengan seabrek kegiatan ataiu event event yang ia selenggarakan baik internal maupun eksternal. Namun, itu semua tak menghalanginya untuk fokus menghafal Alquran agar ia dapat memakaikan mahkota kepada kedua orangtuanya kelak di akhirat. 
  Sekarang sang bidadari tengah berada di kelas 3 SMA. Berarti beberapa bulan lagi ia akan meninggalkan sekolah kami. Selama dua tahun lebih keberadaan sang bidadari, banyak para ikhwan yang berusaha menaklukan htinya. Mulai dari adik kelas teman seangkatan, ketua osis, hingga beberapa guru pun juga ada yang berminat meminangnya kelak ketika ia lulus. 
 Sebutlah ustadz Tohir. Beliau merupakan salah satu alumni terbaik sekolah kami lima tahun silam. Setelah lulus dari sekolah kami beliau mendapat beasiswa di IPB dan lulus dalam kurun waktu yang relatif singkat yaitu 3,5 tahun dengan menyabet predikat cumlaude. Sambil mengajar di sekolah kami, beliau  juga bekerja di salah satu instati pemerintah kota bogor. Tak hanya itu, kini beliau juga terlihat lebih rapih dan parlente. Sesuatu yang berbeda saat dia masih suka bersarung kedodoran di pesantren. Sebagai seorang pegawai negeri sipil, masalah keungan jelaslah tidak menjadi persoalan baginya. 
  Setelah Ujian Nasional diselenggarakan, kini tibalah wakrtu wisuda bagi ukhti manis. Perasaan sedih haru, duka, meliputi para santri terkhusus ikwan yang harus rela melepas bidadari kembali ke kayangan. Namun, di sisi lain kami juga bahagia melihat ukhti manis yang menerima berbagai penghargaan dari sekolah dan pemerintah. Tetapi, yang membuat kami semua takjub ialah bahwa sang bidadari telah menyelesaikan hafalan 30 juznya.  subhanalloh , allohu akbar… hanya dua kalimat indah itu;ah yang menggema dipenjuru aula kala sang bidadari dipanggil diatas podium. 
 Setelah pelepasan alumni, Ustadz Tohir pun mulai menyususn rencana sakralnya. Yaitu mempersunting sang bidadari. Ia pun mengirimkan surat dan sebuah kado yang istimewa  dan unik. Ia memberikan sebuah petmata indah dan kitab hadits yang berjudul lu’lu wal marjan(mutiara yang bersinar) sesuai dengan nama dan paras sang bidadari. Entah itu ide dari mana asalnya, yang pasti menurutnya itu cukup membuat sang ustadz optimistis mendapatkan sang bidadari. 
  Tak butuh waktu lama bagi sang ustadz menunggu jawaban sang bidadari. Tanpa membalas surat tersebut dua hari setelah itu ia lansung menghampiri sang ustadz, tanpa basa-basi, ia langsung menyampaikan jawaban atas surat yang diterimanya.
  “Terima kasih ustadz yang telah berkirim surat dan memberikan hadiah kepada saya. Namun, maafkanlah saya yang belum bisa menerima ustadz. Aku ingin mencintai Imamku kelak atas nama Allah” lirihnya sambil menyerahkan kado itu kembali. 
"Bukankah cinta itu bisa ditumbuhkan ukhti?” 
"Betul, namun aku tidak ada waktu untuk menumbuhkannya. Aku tidak mau melihat ustadz menghabiskan waktu hanya demi menunggu sesuatu yang tak pasti”. Tambahnya.
“Ya, tetapi terimalah hadiah ini dariku sebagai bentuk ketulusan cintaku padamu. Dan aku berharap suatu hari nanti kau akan berubah pikiran”. Ujarnya meyakinkan.
“Sekali lagi terima kasih ustadz, biarlah takdir yang akan mempertemukan kita kelak jikalau kita berjodoh. Sekarang ambilah kembali kado ini dan berikanlah kepada orang yang lebih pantas buat ustadz”. Jawabnya lirih sambil memninggalkan sang ustadz
  Ustadz Tohir pun terdiam dan membisu, tak mampu ia berkata-kata, nafasnya pun tercekat Seakan mendapat tamparan keras dari sang bidadari. Ia tak percaya dengan  apa yang baru saja ia dengar, sebab ia merasa yakin bahwa sang bidadari akan menerimanya. Wajahnya pun menjadi masygul bak bunga yang tampak layu sebelum berkembang. 
  Berita ditolaknya ustadz Tohir oleh sang bidadaripun mulai menjadi buah bibir para santri. Seperti kilat membelah langit, berita itu pun menjadi trending topic di kalangan santri. Para ikmwan yang tadinya sudah frustasi melihat ustadz tohir yang lebih unggul dari mereka ditolak. Kini Seakan mendapat angin segar mereka bangkit kembali untuk memperjuangkan cinta mereka. Mumpung ukhti manis masih harus mengabdi 1 bulan di pondok sebelum sebulan kemudian dikirim ke suatu desa untuk mengikuti pengabdian.
  Diantara mereka ada seorang penulis yang cukup prodiktif. Diam-diam dia juga memendam rasa kepada sang bidadari. Namun, ia tak pernah berani mengungkapannya. Bahkan sampai ketika ia lulus pun belum pernah ia sedikitpun mengutarakan isi hatinya kepada sang bidadari. Barulah setelah ia lulus ia sadar bahwa ia harus memperjuangkan cintanya. Sebelum nasi menjadi bubur, ia pun mulaiu menyiapkan langkah-langkah untuk menggait hati sang bidadari. Namun, tak ada cara lain yang ia mampu utarakan selain melalui tulisan. Ya, dengan surat persis seperti yang dulu dilakukan oleh para ikwan lainnya dan ustadz Tohir. Meski cara itu terkesan jumud dan sia sia. Tetapi ia tak akan menyerah. Ia akan membuat surat tersebut menjadi sedemikian menarik dengan mengedepankan sisi feminis perempuan. Karena keumumuman wanita menyukai warna merah jambu atau warna cerah lainnya, maka warna tersebutlah yang menjadi pilihannya. Ia pun mulai menuangkan isi hatinya dengan kata-kata paling indah yang terlintas di benaknya. Berbagai diksi dan majas ia gunakan agar lebih terkesan puitis. Setelah usai  mencurahkan seluruh isi hatinya, ia pun mengecek ulang kata demi kata agar tidak ada kecacatan. agar lebih terlihat romantis, ia membentuk surat tersebut menjadi lambang hati. Selesailah surat tersebut. 
  Di malam harinya ia mengendap-endap ke perpustakaan sekolah yang dimana itu menjadi tempat menhabiskan waktu luangnya untuk membaca dan memuroja'ah alqur'an. misi ini ia lakukan seorang demi menjaga imagenya agar tidak menjadi bahan omongan anal-anak. setelah situasi aman, ia menyeliupkan surat tersebut di selipan buku favorit ukhti manis yang sedang dibacannya, ia masukan tepat pada tanda baca yang ukhti manis letakan, ia pun meninggalkan kelas dengan senyum kepuasan dan beribu-ribu doa agar sang bidadari mau menerimanya. buku-buku dan kursipun menjadi saksi atas perbuatannya malam itu.
  Dua minggu sudah  ia menunggu balasan surat dari sang bidadari. namun,  tak kunjung jua harapan itu, ia pun semakin galau dan cemas memilirkannya.  ia mulai berspekulasi kalau kalau suratnya jatuh ke tangan orang lain atau diambil ustadz, namun itu tak mungkin. pasalnya tak ada orang lain yang berani membuka loker ukhti manis tanpa seizin darinya. atau ada kemungkinan lain bahwa surat tersebut belum dibaca olehnya? 
  Demi menghilangkan rasa penasarannya, ia pun kembali ke perpustakaan untuk memastikan. hanya ditemani sebuah senter kecil ia membuka kembali loker sang ukhti manis dan mencari buku yang pernah ia selipkan suratnya. tak ada yang berubah dari susunan tumpukan buku bukunya, hanya sedikit lebih berantakan dari biasanya yang menandakan bahwa sang empunya telah membacanya. dugaanya ternyata benar, bahwa suratnya telah raib. ia pun membuka buku itu kembali dengan hati-hati ia telusuri halaman demi halaman. ternyata hasilnya tetap nihil. "mungkin sudah diambil oleh ukhti manis suratku ini". terkannya dalam hati menenangkan. 
  Namun, satu hal yang masih membuat ia bingung, apa gerangan sang bidadari  hingga  belum membalas suratnya? apakah ia malah menjadi benci karna surat yang ia terima? dengan berbagai pertanyaan yang masih berkecimuk ia pun pergi meninggalkan ruang tersebut. tiba-tiba kaki bejo pun tersandung tempat sampah mini yang berada di samping pintu. sambil mengucapkan sumpah serapah ia punguti sampah-sampah itu kembali. tetapi, betapa terkejutnya ia kala melihat seonggok kertas berwarna merah jambu  tergerai di lantai bersamaan sampah lainnya. dengan sedikit cahaya dari lampu senter miliknya ia buka kertas tersebut dan jleb! ternyata itu surat miliknya. ya, secara tersirat tapi pasti ia telah ditolejk oleh sang bidadari!!
  Akhirnya berita ditolaknya sang penulispun juga tersiar ke telinga para santri. bahkan lebih dahsyat dari pada berita ditolaknya ust. tohir. bahkan banyak para ikhwan dan akhwat yang mencibir tindakan sang penulis tersebut, namun ada pula yang turut kasihan terhadapnya. tapi apalah arti sebuah dukungan dan keprihatinan jika harapan telah kandas? 
  Hari demi hari berlalu sebagaimana mestinya. kini masa pengabdian sang bidadari di pondok telah habis. sekarang ia akan dikirim ke daerah banten bersama rekan  lainnya untuk mengikuti . kabar tentang ukhti manis pun semakin hari semakin sirna. para ikhwan yang dari dulu mengejarnya mulai frustasi dan bosan. mereka mulai mencari daun daun muda yang akan datang. begitu juga sang bidadari yang semakin menjadi galak menanggapi respon para ikhwan yang mengejarnya. walau begitu, menurut kami belum ada yang dapat menandingi sang bidadari.
  Hingga di suatu siang yang cukup adem. dimana  matahari lebih memilih sembunyi di balik awan. kami berempat tengah asyik duduk santai di teras asrama. tiba-tiba kami semua dikejutkan dengan sebuah fenomena menakjubkan. sosok yang sangat kami rindukan kehadirannya yang tak lain dan tak bukan adalah sang bidadari. setelah kami amati lebih dalam, ternyata benar ia ukhti manis. namun, kali ini ia tak datang sendirian. ia ditemani oleh seorang lelaki yang kami duga sebagai bapaknya atau abangnya. karna tak mungkin ukhti manis mau berboncengan dengan pria yang bukan mahramnya. tetapi, jikalau pria itu abangnya tau bapaknya, tak ada tanda-tanda yang mengarah padanya. setidaknya itu dapat dilihat dari perbedaan fisik keduanya. pria itu berambut ikal, berkulit hitam legam, berbadan pendek tambun, dan tampak urat-urat yang menonjol di sekujur lengannya menandakan pekerjaan fisiknya. adapun ukhti manis, terlalu sempurna disandingkan dengannya.
  Dari kejahuan, kami melihat beberapa akhwat berhamburan menuju ukhti manis. mereka bersalaman dan berpelukan seakan melepas rindu yang telah lama raib. bahkan anak baru yang tak tahu menahu pun juga ikut menyalaminya. kami terkikik melihatnya. sang bidadari hanya tersenyum kepada mereka seraya memberi isyarat kepada pria yang berdiri mematung di belakangnya untuk menghampiri kami.
" Assalamualaikum warahmatullohi wa barakatuhu" sapanya sopan.
" Waalaikum salam..pak.. " jawab kami spontan sambil menjabat tangannya.
" Nama saya Ari, saya  suaminya dik Mutiara" ujarnya memperkenalkan diri.
  kami semua tersentak  mendengarnya. Bejo dan Iqbal berusaha menutup mulutnya menahan kaget. belum sempat membalas dia mohon pamit meninggalkan kami berempat.
" Kalau begitu saya duluan ya, saya ada perlu dengan pak Umar. wasallamualaikum warahmatullahi wa barakatuhu". tambahnya sambil berlalu meninggalkan kami.
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu" jawab kami serempak seraya menutupi wajah heran kami.
 Tak lama kemudian ukhti manis pun melangkahkan kaki mungilnya untuk menyusul suaminya tersebut. dengan menundukan paras cantiknya ia mengucapkan salam kepada kami dengan lirih. kami semua menjawab salamnya. Sang bidadari pun lewat.
   Salah seorang alumni yang dulu pernah ikut pengabdian bersama ukhti manis mengkisahkan. Bahwa pria itu adalah seorang yatim piatu yang tinggal di daerah banten tepat dimana sang bidadari menjalani masa pengabdian. Setiap harinya ia bekerja sebagai tukang kelapa. Di pagi hari, ia pergi ke ladang majikannya memetik kelapa dan memarutnya untuk kemudian di jual di pasar. Dari kerja tersebut ia mendapat beberapa lembar uang ribuan. Selama kami mengabdi kepada masyarakat sekitar, tak jarang pria itu menyisihkan kelapa segar untuk kami. Ukhti manis pun selalu menerima uluran tangannya dengan senang hati dan penuh suka cita. Dengan ditambah sedikit gula dan es  habislah kelapa segar tersebut olehnya. tak sebatas itu, kami juga kerap menjumpai pria tersebut sedang membersihkan masjid kampung di kala sepi. Dengan penuh keikhlasan ia menyapu, mengepal, mencabutu rumput sekitar masjid dan mengambil air di sumur tanpa terpancar sedikitpun peluh dan kesah di wajahnya. hal tersebutlah yang mungkin menjadikan sang bidadari takluk dengannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar