Ukhti Manis
Oleh: Lukman Hakim
Jika kau berkunjung ke sekolah
kami, duduklah sejenak di teras asrama ikhwan. Dengan ditemani semilir angin
pohon trembesi dan kicauan burung merpati, kau akan merasakan atmosphere
yang berbeda saat kau kembali berdiri dari kursi panang yang kau tempati. Jika
nasibmu mujur, mungkin kau akan melihat bidadari melintasi pekarangan asrama
putri. Atau jika nasibu buruk, kau akan diceramahi sepanjang hari oleh ustadz
karena kau telah berani memandang santri putri.
Di asrama putri ada
satu ciptakaan-Nya yang nyaris sempurna, menyejukan hati ketika di pandang namanya ukhti Mutiara atau yang
biasa disapa ukhti manis. Gadis anggun berparas cantik nan manis ini memang
telah menjadi idola seseantreo sekolah kami. Ditambah kerudung panjang biru
bercorak ‘spirit flower’ yang selalu melekat di kepalanya menambah nilai
plus baginya bak jelmaan bidadari yang diutus ke sekolah kami. Tapi dengan
begitu dia menjadi lebih berwibawa dan membuat kami lebih segan.
Gadis cantik berprestatsi tinggi, baik
akedemik maupun non akademik. Dia juga tak hanya energik tapi juga solehah.
Konon, ketika ia duduk di kelas 2 SMA, ia telah hafal setengah alquran atau 15
juz. Pencapaian gemilang baginya yang baru 2 tahun menetap di pondok. Padahal,
ketika ukhti manis menjabat sebagai osis ia terbilang cukup sibuk dengan
seabrek kegiatan ataiu event event yang ia selenggarakan baik internal maupun
eksternal. Namun, itu semua tak menghalanginya untuk fokus menghafal Alquran
agar ia dapat memakaikan mahkota kepada kedua orangtuanya kelak di
akhirat.
Sekarang sang bidadari tengah berada di
kelas 3 SMA. Berarti beberapa bulan lagi ia akan meninggalkan sekolah kami.
Selama dua tahun lebih keberadaan sang bidadari, banyak para ikhwan yang
berusaha menaklukan htinya. Mulai dari adik kelas teman seangkatan, ketua osis,
hingga beberapa guru pun juga ada yang berminat meminangnya kelak ketika ia
lulus.
Sebutlah ustadz Tohir. Beliau merupakan
salah satu alumni terbaik sekolah kami lima tahun silam. Setelah lulus dari
sekolah kami beliau mendapat beasiswa di IPB dan lulus dalam kurun waktu yang
relatif singkat yaitu 3,5 tahun dengan menyabet predikat cumlaude.
Sambil mengajar di sekolah kami, beliau juga bekerja di salah satu
instati pemerintah kota bogor. Tak hanya itu, kini beliau juga terlihat lebih
rapih dan parlente. Sesuatu yang berbeda saat dia masih suka bersarung
kedodoran di pesantren. Sebagai seorang pegawai negeri sipil, masalah keungan jelaslah
tidak menjadi persoalan baginya.
Setelah Ujian Nasional diselenggarakan,
kini tibalah wakrtu wisuda bagi ukhti manis. Perasaan sedih haru, duka,
meliputi para santri terkhusus ikwan yang harus rela melepas bidadari kembali
ke kayangan. Namun, di sisi lain kami juga bahagia melihat ukhti manis yang
menerima berbagai penghargaan dari sekolah dan pemerintah. Tetapi, yang membuat
kami semua takjub ialah bahwa sang bidadari telah menyelesaikan hafalan 30
juznya. subhanalloh , allohu akbar… hanya dua kalimat indah itu;ah yang
menggema dipenjuru aula kala sang bidadari dipanggil diatas podium.
Setelah pelepasan alumni, Ustadz Tohir
pun mulai menyususn rencana sakralnya. Yaitu mempersunting sang bidadari. Ia
pun mengirimkan surat dan sebuah kado yang istimewa dan unik. Ia
memberikan sebuah petmata indah dan kitab hadits yang berjudul lu’lu wal
marjan(mutiara yang bersinar) sesuai dengan nama dan paras sang bidadari.
Entah itu ide dari mana asalnya, yang pasti menurutnya itu cukup membuat sang
ustadz optimistis mendapatkan sang bidadari.
Tak butuh waktu lama bagi sang ustadz
menunggu jawaban sang bidadari. Tanpa membalas surat tersebut dua hari setelah
itu ia lansung menghampiri sang ustadz, tanpa basa-basi, ia langsung
menyampaikan jawaban atas surat yang diterimanya.
“Terima kasih ustadz yang telah berkirim
surat dan memberikan hadiah kepada saya. Namun, maafkanlah saya yang belum bisa
menerima ustadz. Aku ingin mencintai Imamku kelak atas nama Allah” lirihnya
sambil menyerahkan kado itu kembali.
"Bukankah cinta itu bisa ditumbuhkan
ukhti?”
"Betul, namun aku tidak ada waktu untuk
menumbuhkannya. Aku tidak mau melihat ustadz menghabiskan waktu hanya demi
menunggu sesuatu yang tak pasti”. Tambahnya.
“Ya, tetapi terimalah hadiah ini dariku sebagai
bentuk ketulusan cintaku padamu. Dan aku berharap suatu hari nanti kau akan
berubah pikiran”. Ujarnya meyakinkan.
“Sekali lagi terima kasih ustadz, biarlah
takdir yang akan mempertemukan kita kelak jikalau kita berjodoh. Sekarang
ambilah kembali kado ini dan berikanlah kepada orang yang lebih pantas buat
ustadz”. Jawabnya lirih sambil memninggalkan sang ustadz
Ustadz Tohir pun terdiam dan membisu,
tak mampu ia berkata-kata, nafasnya pun tercekat Seakan mendapat tamparan keras
dari sang bidadari. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar,
sebab ia merasa yakin bahwa sang bidadari akan menerimanya. Wajahnya pun
menjadi masygul bak bunga yang tampak layu sebelum berkembang.
Berita ditolaknya ustadz Tohir oleh sang
bidadaripun mulai menjadi buah bibir para santri. Seperti kilat membelah
langit, berita itu pun menjadi trending topic di kalangan santri. Para
ikmwan yang tadinya sudah frustasi melihat ustadz tohir yang lebih unggul dari
mereka ditolak. Kini Seakan mendapat angin segar mereka bangkit kembali untuk
memperjuangkan cinta mereka. Mumpung ukhti manis masih harus mengabdi 1 bulan
di pondok sebelum sebulan kemudian dikirim ke suatu desa untuk mengikuti
pengabdian.
Diantara mereka ada seorang penulis yang
cukup prodiktif. Diam-diam dia juga memendam rasa kepada sang bidadari. Namun,
ia tak pernah berani mengungkapannya. Bahkan sampai ketika ia lulus pun belum
pernah ia sedikitpun mengutarakan isi hatinya kepada sang bidadari. Barulah
setelah ia lulus ia sadar bahwa ia harus memperjuangkan cintanya. Sebelum nasi
menjadi bubur, ia pun mulaiu menyiapkan langkah-langkah untuk menggait hati
sang bidadari. Namun, tak ada cara lain yang ia mampu utarakan selain melalui
tulisan. Ya, dengan surat persis seperti yang dulu dilakukan oleh para ikwan
lainnya dan ustadz Tohir. Meski cara itu terkesan jumud dan sia sia. Tetapi ia
tak akan menyerah. Ia akan membuat surat tersebut menjadi sedemikian menarik
dengan mengedepankan sisi feminis perempuan. Karena keumumuman wanita menyukai
warna merah jambu atau warna cerah lainnya, maka warna tersebutlah yang menjadi
pilihannya. Ia pun mulai menuangkan isi hatinya dengan kata-kata paling indah
yang terlintas di benaknya. Berbagai diksi dan majas ia gunakan agar lebih
terkesan puitis. Setelah usai mencurahkan seluruh isi hatinya, ia pun
mengecek ulang kata demi kata agar tidak ada kecacatan. agar lebih terlihat
romantis, ia membentuk surat tersebut menjadi lambang hati. Selesailah surat
tersebut.
Di malam harinya ia mengendap-endap ke
perpustakaan sekolah yang dimana itu menjadi tempat menhabiskan waktu luangnya
untuk membaca dan memuroja'ah alqur'an. misi ini ia lakukan seorang demi
menjaga imagenya agar tidak menjadi bahan omongan anal-anak. setelah situasi
aman, ia menyeliupkan surat tersebut di selipan buku favorit ukhti manis yang
sedang dibacannya, ia masukan tepat pada tanda baca yang ukhti manis letakan,
ia pun meninggalkan kelas dengan senyum kepuasan dan beribu-ribu doa agar sang
bidadari mau menerimanya. buku-buku dan kursipun menjadi saksi atas perbuatannya
malam itu.
Dua minggu sudah ia menunggu
balasan surat dari sang bidadari. namun, tak kunjung jua harapan itu, ia
pun semakin galau dan cemas memilirkannya. ia mulai berspekulasi kalau
kalau suratnya jatuh ke tangan orang lain atau diambil ustadz, namun itu tak
mungkin. pasalnya tak ada orang lain yang berani membuka loker ukhti manis
tanpa seizin darinya. atau ada kemungkinan lain bahwa surat tersebut belum
dibaca olehnya?
Demi menghilangkan rasa penasarannya, ia
pun kembali ke perpustakaan untuk memastikan. hanya ditemani sebuah senter
kecil ia membuka kembali loker sang ukhti manis dan mencari buku yang pernah ia
selipkan suratnya. tak ada yang berubah dari susunan tumpukan buku bukunya,
hanya sedikit lebih berantakan dari biasanya yang menandakan bahwa sang empunya
telah membacanya. dugaanya ternyata benar, bahwa suratnya telah raib. ia pun
membuka buku itu kembali dengan hati-hati ia telusuri halaman demi halaman.
ternyata hasilnya tetap nihil. "mungkin sudah diambil oleh ukhti manis
suratku ini". terkannya dalam hati menenangkan.
Namun, satu hal yang masih membuat ia
bingung, apa gerangan sang bidadari hingga belum membalas suratnya?
apakah ia malah menjadi benci karna surat yang ia terima? dengan berbagai
pertanyaan yang masih berkecimuk ia pun pergi meninggalkan ruang tersebut.
tiba-tiba kaki bejo pun tersandung tempat sampah mini yang berada di samping
pintu. sambil mengucapkan sumpah serapah ia punguti sampah-sampah itu kembali.
tetapi, betapa terkejutnya ia kala melihat seonggok kertas berwarna merah
jambu tergerai di lantai bersamaan sampah lainnya. dengan sedikit cahaya
dari lampu senter miliknya ia buka kertas tersebut dan jleb! ternyata itu surat
miliknya. ya, secara tersirat tapi pasti ia telah ditolejk oleh sang bidadari!!
Akhirnya berita ditolaknya sang
penulispun juga tersiar ke telinga para santri. bahkan lebih dahsyat dari pada
berita ditolaknya ust. tohir. bahkan banyak para ikhwan dan akhwat yang
mencibir tindakan sang penulis tersebut, namun ada pula yang turut kasihan
terhadapnya. tapi apalah arti sebuah dukungan dan keprihatinan jika harapan
telah kandas?
Hari demi hari berlalu sebagaimana
mestinya. kini masa pengabdian sang bidadari di pondok telah habis. sekarang ia
akan dikirim ke daerah banten bersama rekan lainnya untuk mengikuti . kabar
tentang ukhti manis pun semakin hari semakin sirna. para ikhwan yang dari dulu
mengejarnya mulai frustasi dan bosan. mereka mulai mencari daun daun muda yang
akan datang. begitu juga sang bidadari yang semakin menjadi galak menanggapi
respon para ikhwan yang mengejarnya. walau begitu, menurut kami belum ada yang
dapat menandingi sang bidadari.
Hingga di suatu siang
yang cukup adem. dimana matahari lebih memilih sembunyi di balik awan.
kami berempat tengah asyik duduk santai di teras asrama. tiba-tiba kami semua
dikejutkan dengan sebuah fenomena menakjubkan. sosok yang sangat kami rindukan
kehadirannya yang tak lain dan tak bukan adalah sang bidadari. setelah kami
amati lebih dalam, ternyata benar ia ukhti manis. namun, kali ini ia tak datang
sendirian. ia ditemani oleh seorang lelaki yang kami duga sebagai bapaknya atau
abangnya. karna tak mungkin ukhti manis mau berboncengan dengan pria yang bukan
mahramnya. tetapi, jikalau pria itu abangnya tau bapaknya, tak ada tanda-tanda
yang mengarah padanya. setidaknya itu dapat dilihat dari perbedaan fisik
keduanya. pria itu berambut ikal, berkulit hitam legam, berbadan pendek tambun,
dan tampak urat-urat yang menonjol di sekujur lengannya menandakan pekerjaan
fisiknya. adapun ukhti manis, terlalu sempurna disandingkan dengannya.
Dari kejahuan, kami
melihat beberapa akhwat berhamburan menuju ukhti manis. mereka bersalaman dan
berpelukan seakan melepas rindu yang telah lama raib. bahkan anak baru yang tak
tahu menahu pun juga ikut menyalaminya. kami terkikik melihatnya. sang bidadari
hanya tersenyum kepada mereka seraya memberi isyarat kepada pria yang berdiri
mematung di belakangnya untuk menghampiri kami.
" Assalamualaikum
warahmatullohi wa barakatuhu" sapanya sopan.
" Waalaikum salam..pak..
" jawab kami spontan sambil menjabat tangannya.
" Nama saya Ari, saya
suaminya dik Mutiara" ujarnya memperkenalkan diri.
kami semua
tersentak mendengarnya. Bejo dan Iqbal berusaha menutup mulutnya menahan
kaget. belum sempat membalas dia mohon pamit meninggalkan kami berempat.
" Kalau begitu saya duluan
ya, saya ada perlu dengan pak Umar. wasallamualaikum warahmatullahi wa
barakatuhu". tambahnya sambil berlalu meninggalkan kami.
"Waalaikum salam
warahmatullahi wabarakatuhu" jawab kami serempak seraya menutupi wajah
heran kami.
Tak lama kemudian ukhti
manis pun melangkahkan kaki mungilnya untuk menyusul suaminya tersebut. dengan
menundukan paras cantiknya ia mengucapkan salam kepada kami dengan lirih. kami
semua menjawab salamnya. Sang bidadari pun lewat.
Salah seorang
alumni yang dulu pernah ikut pengabdian bersama ukhti manis mengkisahkan. Bahwa
pria itu adalah seorang yatim piatu yang tinggal di daerah banten tepat dimana
sang bidadari menjalani masa pengabdian. Setiap harinya ia bekerja sebagai
tukang kelapa. Di pagi hari, ia pergi ke ladang majikannya memetik kelapa dan
memarutnya untuk kemudian di jual di pasar. Dari kerja tersebut ia mendapat
beberapa lembar uang ribuan. Selama kami mengabdi kepada masyarakat sekitar, tak
jarang pria itu menyisihkan kelapa segar untuk kami. Ukhti manis pun selalu
menerima uluran tangannya dengan senang hati dan penuh suka cita. Dengan
ditambah sedikit gula dan es habislah kelapa segar tersebut olehnya. tak
sebatas itu, kami juga kerap menjumpai pria tersebut sedang membersihkan masjid
kampung di kala sepi. Dengan penuh keikhlasan ia menyapu, mengepal, mencabutu
rumput sekitar masjid dan mengambil air di sumur tanpa terpancar sedikitpun
peluh dan kesah di wajahnya. hal tersebutlah yang mungkin menjadikan sang
bidadari takluk dengannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar