Senin, 08 Juni 2015

Uang (Cerpen Sobat KPM)


UANG 
  Oleh : Fajar Supriono 
https://www.facebook.com/fajar.mike

Aku perlu uang. Aku manusia normal, sama seperti manusia lainnya yang membutuhkan benda ini untuk hidupku sehari-hari. Terlebih di akhir bulan seperti ini. Gaji belum turun, kebutuhan tetap harus dipenuhi
Aku periksa ATM, tersisa empat ribu rupiah. Cih. Ditarik pun tak bisa. Pekerjaan guru honorer membuatku kembang kempis di saat-saat seperti ini. Pikiranku buntu. Salah satu hape sudah kujual beberapa hari lalu. Hape buatan Cina yang kupunya sejak awal menjadi guru. Hanya laku seratus ribu rupiah saja.
Ku korek-korek isi lemari, celana, tempat-tempat menyimpan uang receh lain yang aku tahu terkadang tersembunyi di kamar kost. Hanya ada lima ribu rupiah. Yah, lumayanlah untuk dua atau tiga ke depan. Beberapa kali kucoba mengontak teman-temanku. Pinjam uang. Beberapa menjawab, lainnya tidak. Ah, yang membalas sms ku pun, jawabannya sama saja. Tidak bisa meminjamkan uangnya karena akhir bulan dan sudah untuk keperluan dan kebutuhan lainnya.
Ahhhhh.... Berbaring, kutatap atap kost-an. Pikiranku ke mana-mana. Mengontak orang tuaku? Saudara-saudaraku? Terlalu sering aku merepotkan mereka dengan meminjam uang, numpang tidur, numpang makan, numpang lainnya. Tak enak hati kalau sampai merepotkan lagi seperti ini.
“Bengong aja kau Jar!”
Kampret! Bikin kaget aja Bang,”
“Hahaha!”
"Batak sialan.” Umpatku dalam hati.
“Mikir apa kau? Berapa hari bengong terus tiap pulang ngajar.”
“Gak apa-apa Bang. Cuma mikirin uang. Sudah tipis dompetku sekarang Bang.”
“Ah kau kira aku tak pusing mikirin itu? Hahahaha! Tiap hari aku pikirin itu, Jar. Sudah seminggu ini aku bolak-balik pinjam uang ke abangku.”
“Enak abang masih punya saudara di sini. Aku? Gak enak aku repotin keluargaku lagi. Ada rokok, Bang?”
“Nih, ambillah sebungkus. Cukup uang dari abangku untuk keperluanku.”
“Makasih Bang.”
Kuhisap sebatang, kuhembuskan asap rokok ke atas. Kembali memikirkan dari mana aku mendapat uang. Habis sebatang, dua batang, tiga batang. Pusing lama-lama otakku. Kubuang puntung-puntung rokok itu, kubersihkan. Kutinggal tidur.
***

I need a hero to save me now
I need a hero (save me now)
I need a hero to save my life
A hero'll save me (just in time)

Alunan lagu “Hero” dari Skillet membangunkanku. Berisik sekali di kala tidurku nyenyak. Ah, baru kuingat. Sengaja kupasang lagu itu sebagai alarm supaya aku cepat bangun. Rutinitas seperti biasa, mandi, beres-beres dikit, berangkat.
Di sekolah aku mengajar seperti biasa.
“Selamat pagi anak-anak.”
“Selamat pagi, Pak.”
“Baiklah, siapkan buku tugas dan PR kalian.”
Berlanjut rutinitas seperti biasa. Pikiranku tetap melayang, memikirkan bagaimana memperoleh uang tambahan. Ke koperasi sekolah? Rasanya tidak mungkin. Belum genap setahun aku di sekolah itu.
Bel istirahat berbunyi. Kulihat telepon selularku, ada dua pesan masuk. Satu dari adikku sekedar bertanya, “Mas, dmn?”
Segera kubalas, “Di skul”
Satu, dari koordinator pemuda memberi pesan agar sore ini berkumpul di basecamp, ada rapat nanti sore. Kututup telepon selularku seiring murid-murid selesai istirahat.
“Sekarang, siapkan materi selanjutnya.”
“Iya Pak.”
***
Selesai mengajar aku segera ke base camp. Pikiranku terus saja berkecamuk. Di mana aku bisa memperoleh uang tambahan? Di sebuah perempatan jalan, lampu berwarna merah. Sambil berhenti menunggu hijau, seseorang menghampiriku memberikan secarik kertas tawaran kredit pinjaman uang. Mungkin ini salah satu jalanku memperoleh uang tambahan. Akan kujaminkan motorku. Lampu hijau, kupacu motor vespaku. Selang berapa meter, aku berhenti. Motor ku tepikan, ku ambil kembali kertas tadi. Ku baca baik-baik rincian peminjaman dan syarat-syaratnya. Alamak! Motor vespa tahun 83 ini tak bisa kujaminkan. Salah satu syarat untuk motor adalah, keluaran tahun 97. Pupus salah satu harapanku. Kuremas iklan itu, lalu kubuang. Brengsek.
***
Di basecamp kulihat baru beberapa pemuda duduk-duduk santai.
“Oy, Pret. Mana yang lain?”
“Gak tau Mas. Saya juga baru nyampe 5 menitan. “
“Pada di warung kali Mas,” sahut Muel.
“Oh, nuhun.”
Sebelah basecamp memang ada warung biasa kami nongkrong, Warung Pak Asep. Kami sudah menganggap warung ini seperti basecamp kedua kami, tempat ngobrol ngalor-ngidul sambil merokok atau ngopi. Ya, terkadang minta dibuatkan indomie juga.
Sudah sampai duluan kau?” ujarku melihat ketua pemuda sedang duduk santai menghembuskan asap rokoknya.
Udah dari tadi Mas, nungguin yang lain dulu. Ngopi Mas.”
Boleh juga. Kopi satu, Pak.
“Siaplah,” ujar Pak Asep sang pemilik.
Kuambil sebatang rokok lalu kusesap..
Mau bahas apa nanti Niel?”
“Biasa Mas, persiapan Pilkada nanti.”
“Oh, kirain mau ngebahas apaan.”
Obrolan kami lanjutkan hingga waktu rapat mulai.
***
Tiba di kosan, badan serasa hancur remuk. Ingin langsung kurebahkan badan di kasurku.
Di kamar, adikku sedang mengerjakan tugasnya.
“Gimana tadi Mas?”
“Yah, gitu aja Gong. Masalah pilkada dan masalah lainnya,” sambil kurebahkan badan ini.
Masalah duit, gimana? Kalo ga ada, minta aja ke Bapa Mama, Mas.”
Malu Gong. Bapa Mama juga ada keperluan kemarin, ‘kan? Dah, mau tidur dulu. Capek.”
Baru sekejap mata ini beristirahat, adikku membangunkanku.
“Mas, Mas, buat tulisan aja, atau cerpen.”
“Heh? Apa Gong?” setengah sadar kubalas sekenanya.
“Tulis cerpen atau tulisan. Buat apa kuliah, ga bisa nulis.”
Menohok sekali ucapan adikku ini. Masih setengah sadar, aku mengiyakan.
“Sok atuh, gantian komputernya.”
“Kalem, belum selesai tugasnya nih.
“Ya udah, kamu bangunin Mas kalo dah beres.”
Lanjut tidur.
Selang beberapa lama, “Mas, Mas, udah ni. Mau pake gak?”
“Heh?” kupaksakan bangun, kulihat jam di dinding. Astaga! Jam setengah dua malam. Kampret.
“Katanya mau pake komputer.”
Kalem. Ngumpulin nyawa dulu.”
Bangun, ke kamar mandi, cuci muka, bikin kopi. Beres ritual pengumpulan nyawa itu, aku tatap layar monitor. Start, All Programs, Microsoft Office, Microsoft Word. Berapa kali kucoba membuat awalan cerita. Brengsek, gak dapet-dapet juga idenya. Merenung beberapa saat, aku mengetik,

Aku perlu uang. Aku manusia normal, sama seperti manusia lainnya yang membutuhkan benda ini untuk hidupku sehari-hari. Terlebih di akhir bulan seperti ini. Gaji belum turun, kebutuhan tetap harus dipenuhi
Aku periksa ATM, tersisa empat ribu rupiah. Cih. ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar