Aku perlu uang. Aku
manusia normal, sama seperti manusia lainnya yang membutuhkan benda ini untuk
hidupku sehari-hari. Terlebih di akhir bulan seperti ini. Gaji belum turun, kebutuhan
tetap harus dipenuhi
Aku periksa ATM,
tersisa empat ribu rupiah. Cih.
Ditarik pun tak bisa. Pekerjaan guru honorer membuatku kembang kempis di
saat-saat seperti ini. Pikiranku buntu. Salah satu hape sudah kujual beberapa hari lalu. Hape buatan Cina yang kupunya sejak awal menjadi guru. Hanya laku
seratus ribu rupiah saja.
Ku korek-korek isi lemari, celana, tempat-tempat menyimpan uang receh
lain yang aku tahu terkadang tersembunyi di kamar kost. Hanya ada lima ribu
rupiah. Yah, lumayanlah untuk dua atau tiga ke depan. Beberapa kali kucoba
mengontak teman-temanku. Pinjam uang. Beberapa menjawab, lainnya tidak. Ah,
yang membalas sms ku pun, jawabannya
sama saja. Tidak bisa meminjamkan uangnya karena akhir bulan dan sudah untuk
keperluan dan kebutuhan lainnya.
Ahhhhh.... Berbaring,
kutatap atap kost-an. Pikiranku ke mana-mana. Mengontak orang tuaku?
Saudara-saudaraku? Terlalu sering aku merepotkan mereka dengan meminjam uang, numpang tidur, numpang makan, numpang
lainnya. Tak enak hati kalau sampai merepotkan lagi seperti ini.
“Bengong aja kau Jar!”
“Kampret! Bikin kaget aja Bang,”
“Hahaha!”
"Batak
sialan.” Umpatku dalam hati.
“Mikir apa kau? Berapa
hari bengong terus tiap pulang ngajar.”
“Gak apa-apa Bang. Cuma
mikirin uang. Sudah tipis dompetku sekarang Bang.”
“Ah kau kira aku tak
pusing mikirin itu? Hahahaha! Tiap hari aku pikirin itu, Jar. Sudah seminggu
ini aku bolak-balik pinjam uang ke abangku.”
“Enak abang masih punya
saudara di sini. Aku? Gak enak aku repotin keluargaku lagi. Ada rokok, Bang?”
“Nih, ambillah
sebungkus. Cukup uang dari abangku untuk keperluanku.”
“Makasih Bang.”
Kuhisap sebatang,
kuhembuskan asap rokok ke atas. Kembali memikirkan dari mana aku mendapat uang.
Habis sebatang, dua batang, tiga batang. Pusing lama-lama otakku. Kubuang
puntung-puntung rokok itu, kubersihkan. Kutinggal tidur.
***
I need a hero to save me now
I need a hero (save me now)
I need a hero to save my life
A hero'll save me (just in time)
Alunan lagu “Hero” dari Skillet membangunkanku.
Berisik sekali di kala tidurku nyenyak. Ah, baru kuingat. Sengaja kupasang lagu
itu sebagai alarm supaya aku cepat bangun. Rutinitas seperti biasa, mandi,
beres-beres dikit, berangkat.
Di sekolah aku mengajar
seperti biasa.
“Selamat pagi anak-anak.”
“Selamat pagi, Pak.”
“Baiklah, siapkan buku
tugas dan PR kalian.”
Berlanjut rutinitas
seperti biasa. Pikiranku tetap melayang, memikirkan bagaimana memperoleh uang
tambahan. Ke koperasi sekolah? Rasanya tidak mungkin. Belum genap setahun aku
di sekolah itu.
Bel istirahat berbunyi.
Kulihat telepon selularku, ada dua pesan masuk. Satu dari adikku sekedar
bertanya, “Mas, dmn?”
Segera kubalas, “Di
skul”
Satu, dari koordinator pemuda memberi pesan agar
sore ini berkumpul di basecamp,
ada rapat nanti sore.
Kututup telepon selularku seiring murid-murid selesai istirahat.
“Sekarang, siapkan
materi selanjutnya.”
“Iya Pak.”
***
Selesai mengajar aku
segera ke base camp.
Pikiranku terus saja berkecamuk. Di mana aku bisa memperoleh uang tambahan? Di
sebuah perempatan jalan, lampu berwarna merah. Sambil berhenti menunggu hijau,
seseorang menghampiriku memberikan secarik kertas tawaran kredit pinjaman uang.
Mungkin ini salah satu jalanku memperoleh uang tambahan. Akan kujaminkan
motorku. Lampu hijau, kupacu motor vespaku. Selang berapa meter, aku berhenti.
Motor ku tepikan, ku ambil kembali kertas tadi. Ku baca baik-baik rincian
peminjaman dan syarat-syaratnya. Alamak! Motor vespa tahun 83 ini tak bisa
kujaminkan. Salah satu syarat untuk motor adalah, keluaran tahun 97. Pupus
salah satu harapanku. Kuremas iklan itu, lalu kubuang. Brengsek.
***
Di basecamp kulihat baru beberapa
pemuda duduk-duduk santai.
“Oy, Pret. Mana yang
lain?”
“Gak tau Mas. Saya juga
baru nyampe 5 menitan. “
“Pada di warung kali
Mas,” sahut Muel.
“Oh, nuhun.”
Sebelah basecamp memang ada warung biasa kami
nongkrong, Warung Pak Asep. Kami sudah menganggap warung ini seperti basecamp kedua kami, tempat ngobrol
ngalor-ngidul sambil merokok atau ngopi. Ya, terkadang minta dibuatkan indomie
juga.
“Sudah sampai duluan kau?” ujarku
melihat ketua pemuda sedang duduk santai menghembuskan asap rokoknya.
“Udah dari tadi Mas, nungguin yang lain dulu.
Ngopi Mas.”
“Boleh juga. Kopi satu, Pak.”
“Siaplah,” ujar Pak
Asep sang pemilik.
Kuambil sebatang rokok
lalu kusesap..
“Mau bahas apa nanti Niel?”
“Biasa Mas, persiapan Pilkada nanti.”
“Oh, kirain mau
ngebahas apaan.”
Obrolan kami lanjutkan
hingga waktu rapat mulai.
***
Tiba di kosan, badan serasa hancur remuk.
Ingin langsung kurebahkan badan di kasurku.
Di kamar, adikku sedang
mengerjakan tugasnya.
“Gimana tadi Mas?”
“Yah, gitu aja Gong.
Masalah pilkada
dan masalah lainnya,” sambil kurebahkan badan ini.
“Masalah duit, gimana? Kalo ga ada, minta aja ke
Bapa Mama,
Mas.”
“Malu Gong. Bapa Mama juga ada keperluan kemarin, ‘kan?
Dah, mau tidur dulu.
Capek.”
Baru sekejap mata ini
beristirahat, adikku membangunkanku.
“Mas, Mas, buat tulisan
aja, atau cerpen.”
“Heh? Apa Gong?” setengah sadar kubalas
sekenanya.
“Tulis cerpen atau
tulisan. Buat apa kuliah,
ga bisa nulis.”
Menohok sekali ucapan
adikku ini. Masih setengah sadar, aku mengiyakan.
“Sok atuh, gantian
komputernya.”
“Kalem, belum selesai tugasnya nih.”
“Ya udah, kamu bangunin
Mas kalo dah beres.”
Lanjut tidur.
Selang beberapa lama,
“Mas, Mas, udah ni. Mau pake gak?”
“Heh?” kupaksakan
bangun, kulihat jam di dinding. Astaga! Jam setengah dua malam. Kampret.
“Katanya mau pake
komputer.”
“Kalem. Ngumpulin nyawa dulu.”
Bangun, ke kamar mandi,
cuci muka, bikin kopi. Beres ritual pengumpulan nyawa itu, aku tatap layar
monitor. Start, All Programs, Microsoft Office, Microsoft Word. Berapa kali
kucoba membuat awalan cerita. Brengsek, gak dapet-dapet juga idenya. Merenung
beberapa saat, aku mengetik,
Aku
perlu uang. Aku manusia normal, sama seperti manusia lainnya yang membutuhkan
benda ini untuk hidupku sehari-hari. Terlebih di akhir bulan seperti ini. Gaji
belum turun, kebutuhan tetap harus dipenuhi
Aku
periksa ATM, tersisa empat ribu rupiah. Cih.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar