Jumat, 12 Juni 2015

Antara Hati dan Logika (True Story Sobat KPM)


Antara Hati dan Logika
Oleh : Yeni Yulianti

“Layang-layang bisa terbang karena menantang angin”—Sri Raharso

Layang-layang tidak akan pernah terlihat indah terbang diatas muka bumi, jika dia tidak membuat keputusan untuk menentang angin yang kencang. Bagi layang-layang angin merupakan sebuah tantangan yang harus ditaklukan. Sama halnya dengan HIDUP. Hidup adalah sebuah tantangan. Dimanapun, kapanpun, apapun, dan dengan siapapun pasti akan ada tantangan yang harus kita hadapi dan taklukan.

Tahunlalu (2014) mungkin bagi saya adalah tahun yang penuh dengan tantangan dan pengalaman. Berpuluh-puluh pengalaman danberatus-ratus pelajaran saya dapatkan dari awal bulan sampai akhir bulan 2014. Saya benar-benar bias menghargai semenit demi semenit waktu yang saya miliki.
Bener kata Kang Ginan (Mahasiswa Filsafat UI 2012) “Sayaini orang keren. Dan orang keren selalu bangkit di akhir cerita-cerita superhero. Oke, akan saya buktikan sekarang. Saya berjuang, from zero to hero”. Dari kata-kata itu saya jadi termotivasi selama semester terakhir di SMA Saya mengerahkan seluruh kemampuan yang saya miliki untuk mengejar mimpi saya menjadi “Mahasiswa Ilmu Ekonomi UI 2014”. Walaupun demikian saya tetap tak habis pikir mengapa setiap orang mempunyai kebiasaan merubah pola hidup ketika semuanya dalam batas habis waktu???.

Di tahun 2014, dari bulan Maret sampai bulan Juni waktu saya benar-benar saya habiskan hanya untuk belajar. Selama itu pokoknya gak ada nonton sinetron, gak ada keluyuran sama temen, dan juga gak ada yang namanya maenan handphone sampe tengah malam.  Waktu itu saya membuat jadwal belajar yang sangat intens. (Wah keren juga tuh, terus hasilnya gimana yen?) Nah  itu dia, walaupun hasil yang saya dapat dari perjuangan yang menurut saya sudah maximal  itu tidak sesuai harapan, (lah? mengapa bisa tak sesuai harapan?). Alasannya, Pertama karena saya tidak lulus SNMPTN, kedua saya juga tidak lulus SBMPTN, dan yang lebih parah lagi nilai rata-rata UN saya jauh sekali dari target yang saya tetapkan. Sedih? Itupasti, tapi apa saya akan tetap seperti ini ? meratapi nasib yang tak membawa harapan? Ohhh no, itu bukan tipe seorang pemenang J saya bangkit dan tegak berdiri menghadapi ujian kehidupan selanjutnya. Walau   1 minggu mungkin wajar jika saya tidak ingin melihat soal-soal pemantapan UN dan soal-soal latihan SBMPTN yang dulu adalah teman setia saya dikala pagi, siang, petang dan malam (kedengaran sedikit agak berlebihan, however itulah yang terjadi ).

Untuk setiap harinya rata-rata waktu sembilan jam saya habiskan di sekolah. Berangkat pagi pulang petang, ketika berangkat kesekolah langit masih gelap dan ketika tiba di rumah langit sudah berubah menjadi gelap kembali. Aaaaah rasanya itu rutinitas paling melelahkanL.  Dulu sempat terpikir oleh saya untuk menyerah, namun apa itu jalan yang saya harapkan?  Jelas jawabannya tidak, saat itu yang bisa saya lakukan adalah menengadah berserah diri dan meminta yang terbaik kepadaNya.
JUM’AT, 25 APRIL 2014

Saat itu memang rutinitas telah berubah menjadi ketenangan yang menegangkan. Karena bosan dengan kegiatan yang penuh dengan kesia-siaan selama masa pengangguran itu, akhirnya saya memutuskan untuk mendaftarkan diri sebagai peserta EKSPEKTASI Asgar Muda Super Camp angkatan pertama. Ekspektasi AMSC itu adalah organisasi yang berada dibawah naungan organisasi Asgar Muda Super Camp yang dibentuk atau bertujuan untuk membekali kader-kadernya menghadapi kehidupan di kampus yang mereka impikan.  Ironisnya waktu itu saya belum diterima di PTN manapun, karena pengumuman penerimaan mahasiswa baru baru akan diumumkan pada bulan Mei. Tapi entah mengapa saya begitu optimis dengan keyakinan saya, bahwa kelak saya pasti bisa kuliah.

Seleksi demi seleksi telah saya lewati, dan akhirnya saya menjadi bagian dari 80 orang yang beruntung menjadi peserta Ekspektasi AMSC angkatan  pertama. Setelah lolos seleksi, saya tak pernah absen mengikuti serangkaian kegiatan seperti training motivasi untuk kuliah diperguruan tinggi negeri, mentoring, dan juga menghadiri kelas tambahan persiapan SBMPTN. Sebenarnya kegiatan-kegiatan ini ditentang keras oleh ibu saya, karena memang beliau tidak terlalu mengizinkan semua anaknya untuk aktif di kegiatan-kegiatan sekolah ataupun luar sekolah, apalagi waktu itu saya sudah bebas dari berbagai kegiatan wajib masa putih abu-abu. Akibatnya selama mengikuti kegiatan di Asgar Muda saya tak jarang pergi tanpa izin beliau, bukan ingin menentang tapi terkadang kita harus berani bersikap dalam mengambil keputusan yang sekiranya menurut kita benar dan tidak menentang aqidah kita.

***

SELASA, 27 MEI 2014

Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga.. apa yang terjadi dengan mimpiku dan perjuanganku selama ini? Kabar itu..berita penerimaan mahasiswa baru melalui jalur prestasi akademik (SNMPTN) sudah didepan mata, akan tetapi saya belum sanggup untuk melihat kenyataannya (diterima atau tidak, itu semua terjadi atas kehendakNya). Waktu itu teman-teman saya sudah gencar menanyakan via sms “yen gimana keterima gak?” atau “dek gimana udah dicek belum berita SNMPTN?” dan berbagai pertanyaan lain yang beragam dengan satu tujuan yaitu “kepo” alias penasaran J. Akhirnya saya menyarankan agar teman-teman saya dan kakak tingkat saya untuk membuka sendiri di halaman web SNMPTN, setelah saya beri tahu user name dan passwordnya. Dan merekapun tahu sendiri apa yang terjadi. Saya tidak LULUS SNMPTN. Ketika itu pupuslah harapan saya untuk menjadi sarjana ekonomi-__-. Sempat putus asa dan kecewa lalu menangis karena tak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Tapi ternyata saya tidak sendirian karena teman-teman dikelas ataupun di organisasipun mayoritas mengalami hal yang sama pedihnya. Kesedihan memang akan terasa lebih ringan ketika kita tak sendirian mengalaminya. 

Ketika saya memberitahu ibu saya kalau saya tidak lulus SNMPTN, ibu saya hanya menanggapi dengan sikap yang terlihat seperti tidak terlalu peduli dengan berita seperti itu, karena sejak awal harapan ibu saya adalah setelah lulus SMA saya harus bekerja seperti apa yang sepupu-sepupu saya lakukan. “Kerja dulu baru kuliah dengan uang sendiri” begitulah pendapat ibu saya. Tapi ketika lulus SMA saya  merasa belum mempunyai skill apa-apa untuk bekerja. Disana saya mulai bingung dengan masa depan saya yang masih jadi ilusi. Apakah saya akan ikut SBMPTN atau saya mulai membuat surat lamaran pekerjaan ke PT-PT yang ibu saya sarankan. 

Tanpa sepengatahuan ibu saya, diam-diam saya selalu konsultasi kepada guru BP dan mentor-mentor saya di asgar muda. Dan alhamdulillah saya mendapatkan pencerahan dari masalah-masalah yang saya hadapi. 98% pendapat itu dapat disimpulkan bahwa saya harus mengikuti tes tulis masuk perguruan tinggi negeri dan 2% nya tergantung dari keberanian saya untuk memutuskan.

Singakat cerita...

Saya sudah mengikuti tes tulis dengan izin yang dipaksakan, hasilnya? Saya GAGAL lagi. dan kali ini orang tua saya benar-benar meminta saya untuk berhenti berharap kuliah di tahun 2014, karena nyatanya tes demi tes gagal saya taklukan walaupun saya sudah berjuang. Namun hati kecil saya masih bersemangaat untuk mengikuti tes-tes yang lain walupun itu bukan jurusan Ekonomi.

Karena didorong dari motivasi dan ambisi yang sangat kuat saya memutuskan untuk mendaftarkan diri di Politeknik Negeri Bandung melalui jalur tulis. Ketika itu tanggal 15 juli 2014, saya daftar di jam-jam terakhir penutupan pendaftaran, berbekal uang tabungan yang saya miliki saya daftar dan ke bank diantar seorang teman yang sama daftar SMB juga. Waktu itu saya nekat tidak meminta izin kepada ibu saya, karena saya sudah yakin beliau tidak akan mengizinkan saya untuk ikut test lagi.

Hari demi hari berjalan terasa cepat, akhirnya tanggal 17 juli saya meminta izin untuk pergi ke bandung, karena tanggal 18 juli adalah test nya. Semalaman saya memikirkan bagaimana besok, gimana caranya bicara kalau besok saya akan pergi ke Bandung untuk test masuk POLBAN, semalama saya tak bisa tidur hanya gara-gara tidak tahu gimana caranya bicara degan ibu. 

Saya memang kurang dekat dengan ibu dan dengan semua orang yang ada di rumah, terkecuali denagn nenek saya,  makanya untuk hal yang sepele saja saya bingung gimana cara mengungkapkannya (#ironis ) . pagi itu sengaja saya bangun lebih pagi dan beres-beres rumah lebih awal karena jam 9 saya sudah janji bersama ke empat teman saya untuk berangakat ke Bandung. Tak saya sangka baru saja satu kalimat meluncur dari lidah saya, ibu saya langsung membom bardir dengan puluhan kalimat yang membuat saya terisak. SAYA TIDAK DIBERI IZIN . Bingung.  Apa yang mesti saya lakukan? Karena semua sudah siap, hanya izin yang saya butuhkan saat itu.  

sementara saya menangis di kamar, ibu saya menyuruh saya untuk menjaga rumah dan nenek saya, karena katanya waktu itu ibu saya ada urusan keluar. disanalah otak saya bekerja.  saya menulis surat untuk ibu saya yang isinya permintaan maaf karena telah melawan. saya memutuskan untuk kabur dari rumah. melalui perang tangisan antara saya dan nenek, tanpa dibekali uang sepeserpun akhirnya saya pergi tanpa salam kepada ibu, saya berpikir tak apa kali ini saya menentang utnuk mimpi, karena dulu-dulu saya selalu nurut dengan semua perintah ibu, toh ini bukan sesuatu yang menyalahi aturan. untungnya saya punya tabungan yang cukup untuk pergi kebandung. di sepanjang perjalanan saya berdo'a dan meminta untuk diselamatkan.

setelah sampai di Bandung, saya menginap di kosan anak PAMAGAR( Paguyuban Mahasiswa Garut) bersama 2 orang teman perempuan saya, dan yang 2 orang lagi menginap di Garut Kost. ketika sampai saya langsung disambut dengan hangat oleh teh Tyas (Mahasiswa Akuntansi Polban 2012) dan Kang Agung (Mahasiswa Teknik Sipil Polban 2012). Perasaan yang melegakan karena selamat sampai tujuan tapi hati tetap tidak tenang-,- . Saya langsung memberi  kabar kepada ibu saya karena saya sudah sampai di Bandung. ibu saya hanya membalas dengan kata-kata yang dingin tanpa ekspresi. Namun tak apa karena itu sudah menjadi konsekuensi. 

Siangnya saya pergi kekampus Polban untuk yang  pertama kalinya, dan menjalani tes dengan hati yang gugup. akhirnya selesai juga. sebelum test saya berdo'a dalam hati " Ya Alloh, jika memang ini adalah pilihan yang terbaik yang Engkau tentukan, maka berilah kelancaran dalam setiap langkah yang saya jalani. jika memang kuliah bukan jalan satu-satunya untuk mencapai apa yang saya impikan saya akan berhenti sampai titik ini dan menerima saran orangtua saya". saya bertekad dan yakin.

TEST SELESAI

23 JULI 2014 saya mendapat kabar menggembirakan.... SAYA LULUS SELEKSI di pilihan pertama dengan uang kuliah tunggal paling rendah dan hanya untuk satu orang. betapa bahagianya saya menjadi satu orang itu. Alhamdulillah. Orang tua saya terlihat bahagia, akhirnya saya dapat membuktikan kalau saya benar-benar ingin kuliah.

Pesan : ketika kita yakin dengan apa yang kita anggap benar walau itu bertentangan dengan ideologi orangtua, maka tak ada salah nya untuk mencoba keluar dari zona nyaman. BERANI MENGAMBIL RESIKO adalah syaratnya.

semoga kisah saya diatas dapat memberikan sedikit masukan untuk good readers dimanapun yang mempunyai masalah antara Hati dan Logika. 

#SalamSukses

Tidak ada komentar:

Posting Komentar